DUNIA BERITA

Menyajikan Berita Nasional dan Internasional

  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Internasional
  • Peristiwa
  • Bisnis
  • Kesehatan
  • Perbankan
  • Serba-Serbi
Home » Serba-Serbi
Showing posts with label Serba-Serbi. Show all posts
Showing posts with label Serba-Serbi. Show all posts

Tuesday, 8 December 2015

Kiat Agar Anak Mau Konsumsi Sayuran

Ilustrasi anak tidak suka makan sayur (Foto Dok. Thinkstock)


DUNIA BERITA - Sayuran merupakan sumber nutrisi seperti vitamin dan mineral yang baik bagi anak-anak. Namun, banyak anak-anak tidak suka mengonsumsi sayuran. Hal ini merupakan masalah makanan yang biasanya sering terjadi pada anak-anak.

Studi yang dilakukan oleh University of Alberta, Kanada, mengungkapkan bahwa ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh para orang tua supaya sang anak mau mengonsumsi sayuran.

Mengutip CNN Indonesia, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Public Health Nutrition itu mengatakan bahwa anak-anak yang dapat memasak lebih sehat ketimbang anak yang tidak pernah memasak.

Studi yang mengikut sertakan 151 anak sekolah itu menemukan bahwa anak yang sering membantu ibunya memasak, mengonsumsi lebih banyak sayuran dan buah dibandingkan anak yang tidak pernah membantu ibunya memasak di dapur.

Anak-anak yang membantu sang ibu dalam pengolahan makanan di rumah mempunyai tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam memilih makanan sehat di sekolah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa memotivasi anak berperan aktif dalam mempersiapkan makanan di rumah menjadi salah satu strategi kesehatan yang efektif.

Kendati studi tersebut masih perlu dilakukan uji lebih lanjut. Tetapi, tidak ada salahnya mengajak sang anak untuk mengenal makanan yang akan mereka konsumsi. Tindakan ini dapat menjadikan mereka mempunyai hubungan positif dengan makanan.

Akan tetapi para orang tua juga perlu mengawasi keamanan tatkala sang anak dengan ceria membantu di dapur. Perlengkapan memasak yang tajam seperti pisau, panas, serta berat hendaknya tidak mudah dijangkau oleh anak-anak.

Kecuali itu, aktivitas yang dapat diberikan kepada anak di dapur sebaiknya hal sederhana seperti memilihkan sayuran yang bagus untuk di masak, mencampurkan salad serta membumbui sayuran.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
21:38

Monday, 7 December 2015

Orang Sensitif Ternyata Cenderung Lebih Jujur

Ilustrasi perempuan sensitif (Foto Dok. Chepko/Thinkstock)

DUNIA BERITA - Seseorang yang mengikuti intuisi atau kata hatinya kecil kemungkinannya berbuat tindakan yang tidak bermoral seperti menipu, menurut studi yang diterbitkan dalam jurnal Personality and Individual Differences, seperti dilansir laman Independent.

Menurut deskripsi, intuisi adalah kemampuan untuk memahami sesuatu dengan cepat tanpa perlu penalaran secara sadar, seorang peneliti mempelajari apakah orang-orang yang memakai insting berperilaku berbeda dari mereka yang menyatakan tidak memakai insting.

Dr Sarah Ward, salah satu tim studi dari Universitas Missouri, telah melakukan dua kali eksperimen pada lebih dari 100 orang. Para partisipan diminta mengerjakan serangkaian kuesioner yang berhubungan dengan kecenderungan mereka untuk mengandalkan intuisi.

Kelompok tersebut dipisah menjadi dua. Kelompok pertama diminta membaca cerita tentang bagaimana mereka melakukan kesalahan di kantor dan menyalahkan rekan kerja. Sedang kelompok kedua, yakni kelompok kontrol membaca cerita yang sama namun berhujung dengan mereka bertanggungjawab atas kesalahan tersebut.

Dr Sarah Ward menyebutkan, partisipan yang membayangkan mereka berbuat sesuatu yang tidak bermoral akan rela membayar lebih untuk produk pembersih tangan. Studi sebelumnya menemukan adanya kaitan antara rasa bersalah dengan merasa kotor.

Dalam eksperimen kedua, seperti dilaporkan laman CNN Indonesia, partisipan diminta menulis tentang saat dimana mereka berbuat tindakan tidak bermoral. Lalu, mereka diminta menjalani tes IQ, menguji apakah pribadi intuitif lebih kecil kemungkinannya bertindak curang.

Mereka yang terlibat dalam studi diminta untuk menilai kertas mereka sendiri, dan di beritahu jika 10 partisipan terbaik akan mendapat tiket lotere. Hasil penelitian menunjukkan 23 persen dari orang-orang tersebut menipu.

"Eksperimen kami yang kedua menemukan bahwa orang-orang yang cenderung mengandalkan insting lebih kecil kemungkinannya menipu selepas memikirkan saat tatkala mereka berperilaku tidak bermoral," ujar Ward.

Ward melanjutkan, hal tersebut lantaran partisipan mencoba mengimbangi perilaku buruk masa lalu dengan bertindak secara bermoral di masa sekarang. Serta, kecenderungan mengimbangi perbuatan masa lalu menonjol diantara orang-orang yang mengandalkan intuisi.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
20:46

Thursday, 26 November 2015

Beberapa Makanan Yang Dapat Menyebabkan Pikun

Ilustrasi Makanan Tahu (Foto Dok. Getty Images)

DUNIA BERITA - Tidak sekadar untuk menambah berat tubuh, alih-alih makanan yang anda konsumsi juga dapat mempengaruhi kemampuan kognitif dan memori anda.

Para peneliti mendapati beberapa makanan yang dapat mempengaruhi kognitif dan memori anda, seperti tahu dan ikan tuna. Dikutip dari Prevention, inilah makanan yang dapat berdampak penurunan kemampuan kognitif maupun memori anda.

  • Tahu
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Dementia and Geriatric Cognitive Disorders, mengungkapkan adanya keterkaitan antara konsumsi tahu yang tinggi dengan peningkatan risiko kerusakan kognitif dan kehilangan memori.

Studi tersebut melibatkan 719 laki-laki dan perempuan di Indonesia. Dalam studi, peneliti meminta mereka untuk mengonsumsi tahu untuk selanjutnya menjalani tes memori.

Hasilnya, mereka yang mengonsumsi tahu lebih dari sembilan porsi dalam sepekan akan mengalami gangguan memori. Sedangkan yang lainnya tidak.

Para peneliti menduga senyawa kimia yang terkandung dalam tahu yakni fitoestrogen dapat memengaruhi fungsi otak. Tetapi, herannya, makanan fermentasi kedelai lainnya seperti tempe, malah ditemukan dapat meningkatkan kemampuan memori.
  • Sodium
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi sodium yang disertai aktivitas fisik yang rendah dapat mengakibatkan efek negatif terhadap kemampuan kognitif.

Para peneliti dari Kanada melakukan pengujian terhadap 1.262 partisipan dengan rentang umur 67 hingga 84 tahun.  Mereka dipisahkan dalam tiga kelompok, yakni kelompok yang mengonsumsi sedikit sodium, mengonsumsi sodium dengan tingkat sedang dan mengonsumsi sodium dalam jumlah banyak.

Perubahan paling nampak terjadi pada kelompok yang tidak banyak melakukan aktivitas fisik. Kelompok yang mengonsumsi sodium lebih sedikit serta melakukan sedikit aktivitas fisik kedapatan mengalami penurunan kemampuan kognitif yang lebih lambat ketimbang dengan kelompok yang mengonsumsi lebih banyak sodium dengan sedikit aktivitas fisik.

Untuk mencegah hal tersebut, mesti melakukan latihan dan olahraga secara teratur agar dampak negatif sodium tidak berpengaruh pada otak.
  • Lemak Trans
Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada Journal PloS One menyebutkan bahwa mengonsumsi lebih banyak lemak trans dikaitkan dengan sulitnya mengingat kata-kata.

Penelitian ini dilakukan terhadap 1.018 peserta yang mengonsumsi lemak trans sebanyak 3,8 gram hingga 27,7 gram per hari. Kemudian mereka diminta untuk menjalani tes yang memaksa mereka untuk mengenali serangkaian kata-kata yang berlawanan dan berulang.

Hasilnya, untuk setiap gram yang dikonsumsi per hari, peserta dapat mengingat sekitar 0,76 kata lebih sedikit. Sedangkan peserta yang mengonsumsi lemak trans lebih banyak per hari hanya dapat mengingat 65 kata dengan benar. Sementara rata-rata peserta dapat mengingat 86 kata.
  • Ikan Tuna
Menurut penelitian dari jurnal Integrative Medicine, orang yang mengonsumsi lebih dari tiga porsi ikan seperti tuna, kerapu, kakap tiap minggu atau lebih empat porsi per bulan dapat berisiko penurunan fungsi kognitif.

Pemicunya adalah kadar merkuri yang terkandung dalam ikan-ikan tersebut. Para peneliti memelajari kebiasaan mengonsumsi makanan laut terhadap 384 orang untuk selanjutnya meminta mereka menjalani tes kognitif.

Hasilnya, mereka yang mempunyai kadar merkuri lebih tinggi pada darah mereka memiliki nilai yang buruk dalam tes kognitif dibandingkan mereka yang mempunyai kadar merkuri lebih rendah.
  • Lemak Jenuh
Para peneliti dari Universitas Montreal, Kanada mengatakan bahwa diet pada tikus yang mengonsumsi lemak jenuh tinggi, seperti minyak kelapa sawit atau mentega, akan mengalami gangguan pada sistem mesolimbik pada otak.

Sistem tersebut yang mengendalikan motivasi dan juga berdampak pada gangguan suasana hati, kelebihan makan serta kecanduan obat.


Sumber : CNN Indonesia
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
22:28

Wednesday, 18 November 2015

Studi: Ponsel Dapat Berdampak Pada Bentuk Tubuh

Ilustrasi penggunaan ponsel (Foto Dok. Imtmphoto/Thinkstock)


DUNIA BERITA - Berdasarkan sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Surgical Technology International mengungkapkan bahwa berkirim pesan menggunakan ponsel dapat menambah beban sekitar 23 kilogram pada tulang belakang, Tetapi, bobot beban tersebut mungkin beragam, terkait bagaimana posisi menunduk yang dilakukan seseorang tatkala menghadap layar ponselnya.

Dr Kenneth K. Hansraj, penulis studi yang juga ahli bedah tulang belakang dan ortopedik, mengatakan "Kehilangan bentuk alami tulang belakang dapat meningkatkan tekanan pada tulang belakang."

Posisi yang kerap menunduk menghadap layar ponsel, bakal memberikan tekanan pada tulang belakang dan memicu degenerasi atau rusaknya tulang belakang. Konsekuensinya, mungkin berakhir dengan operasi.

Seperti dilansir laman Medical Daily, dalam studinya, Hansraj membuat sejumlah perhitungan tekanan dan lengkungan tulang, serta dampaknya. Apabila, derajat kemiringan nol, tekanan yang dihasilkan sama dengan berat kepala, rata-rata 4,5 - 5,4 kilogram. 

Namun, tatkala ada kemiringan sampai 15 derajat saja, beban yang diterima akan bertambah. Pada posisi tersebut, beban yang mesti diterima tulang belakang dapat mencapai 12 kilogram. Dengan kemiringan 30 derajat, beban dapat mencapai 13,6 kilogram. Bila posisi menunduk hingga 45 derajat, tulang belakang dibebani 22 kilogram. Apalagi sampai menunduk hingga 60 derajat, beban pada tulang belakang bisa menjadi berkali-kali lipat dari semestinya, hingga 27 kilogram.

Mengutip laman CNN Indonesia, kebanyakan orang, apalagi generasi masa kini, yang hidup dengan posisi tersebut. Banyaknya konten menarik pada ponsel atau tablet yang nyaman dalam genggaman, alih-alih membawa efek lain yang berbahaya bagi kesehatan.

Biasanya orang menunduk ke layar ponselnya selama sekitar 2 - 4 jam per hari. Jika dikalkulasi dalam setahun seseorang menatap layar ponsel dengan posisi menunduk selama 700 hingga 1.400 jam. Pada anak usia SMA, mungkin lebih parah. Mereka bisa melewatkan waktu 5.000 jam sebelum mereka lulus sekolah untuk menunduk ke layar ponselnya.

Upaya untuk mencegah rusaknya tulang belakang akibat kebiasaan ini bukan dengan membuang teknologi. Manfaatkan teknologi sekadarnya saja dan lebih mempertimbangkan efeknya tatkala menggunakan ponsel dan berbagai perangkat lainnya.

"Nyaris tidak mungkin untuk menghindari memanfaatkan teknologi tersebut. namun, sebaiknya anda berupaya membetulkan posisi saat menggunakan ponsel supaya posisi tulang belakang tetap alami dan mencegah berlama-lama menggunakannya," ujar Hansraj.

Untuk diketahui, posisi terbaik tulang belakang adalah apabila posisi telinga sejajar dengan bahu dan tulang belikat dalam keadaan normal. Kecuali posisi ini, anda akan membebani tulang punggung dan jika terus menerus dijalani akan mempengaruhi postur tubuh.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
21:26

Monday, 9 November 2015

Satu Jam Setelah Tahu Hamil, Wanita ini Lalu Melahirkan

Ilustrasi ibu hamil (Foto Dok. Thinkstock)

DUNIA BERITA - Seorang wanita melahirkan seorang bayi hanya satu jam setelah mengetahui dirinya hamil. Wanita tersebut bernama Judy Brown di bawa ke rumah sakit setelah menderita kram perut. Pada awalnya dia dikira terserang batu empedu.

Seperti di lansir laman CNN Indonesia, Judy dan suaminya Jason Brown betul-betul tidak mengetahui bahwa saat itu sesungguhnya mereka akan memiliki seorang anak. Wanita berumur 47 tahun itu akhirnya melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat satu jam setelah didiagnosa hamil oleh pihak rumah sakit.

Judy Brown dari Massachusetts, terburu-buru ke Rumah Sakit Beverly, dengan keluhan nyeri berat pada bagian perutnya. Diagnosa pihak rumah sakit menyebutkan dia tengah mengandung dan segera akan melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat dengan berat 3,6 kilogram.

Independent melaporkan bahwa tatkala Judy tahu perutnya mulai membuncit, dia menyangka itu lantaran dia mulai beranjak tua, apalagi mendekati menopouse.

"Rasanya cukup mengerikan ketika dibawa ke rumah sakit dan menyangka bahwa ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi," ujar Judy kepada ABC News. "Untuk memahami dan menerima bahwa saya tengah hamil lantas tidak lama kemudian melahirkan...itu semua sangat membingungkan."

Ini merupakan anak pertama mereka setelah menikah selama 22 tahun. Pasangan ini segera bersiap-siap, sampai terpaksa meminjam dudukan bayi untuk di mobil begitu mereka pulang nanti. Suami-istri ini memberi nama anak mereka Carolyn Rose, yang merupakan nama gabungan ibu Judy dan Jason. Baik Judy dan Carolyn Rose saat ini dalam kondisi sehat.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
21:46

Saturday, 7 November 2015

Studi: Di Usia 30-an, Seseorang Merasa Paling Tidak Bahagia

Usia 30an dimana banyak orang merasa tidak bahagia (Foto Dok. Shutterstock)

DUNIA BERITA - Berdasarkan sebuah penelitian baru yang dilakukan oleh para peneliti yang dipimpin Profesor Jean Twinge dari Universitas San Diego, mengungkapkan bahwa seseorang di usia 30-an, merasa mereka tidak lagi sebahagia ketika berusia 20an. Mereka merasa kurang puas dengan kehidupannya.

Mereka menegaskan banyaknya perubahan dalam hidup dalam semua hal, mulai himpitan keuangan atau ekonomi yang belum mapan, hingga realitas bahwa kehidupan nyata tidak seindah yang dipikirkan.

Sebaliknya, seperti dikutip dari laman CNN Indonesia, semasa muda mereka yakin dapat menaklukan dunia. Namun, di usia 30an, mereka menjumpai banyak tantangan yang sukar dilalui.

Geena Kandel, seorang mahasiswi senior di Universitas Washington di St. Louis, menyebutkan bahwa dia dan teman-temannya justru sudah merasa cemas jika pendidikan tinggi tak cukup untuk menggapai apa yang dipunyai oleh orang tua mereka.

"Kondisi ini dapat memberikan banyak tekanan pada orang-orang seusia saya," ucap mahasiswi yang berumur 21 tahun ini.

Ada yang mengatakan, serbuan informasi dari internet, setiap hari merupakan salah-satu penyebab yang menjadikan kita kewalahan. Sedangkan, yang lainnya menghubungkan ketidakbahagiaan dengan penghasilan yang kurang memadai.

Menurut pendapat Benjamin Radcliff, Profesor Ilmu Politik dari Universitas Notre Dame, yang juga pernah memelajari topik ini, mengatakan "Tekanan sosial dan gaya hidup konsumtif menjadikan orang dewasa merasa tidak aman dalam kehidupan sehari-hari, sejumlah hal menjadi tidak merata, kualitas hidup cenderung menurun."
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
21:19

Thursday, 5 November 2015

Kapan Sebaiknya Makanan Padat Diberikan Pada Bayi?

Ilustrasi bayi sedang diberikan makanan padat (Foto Dok. Getty Images)

DUNIA BERITA - Kesehatan anak merupakan hal utama yang sangat diperhatikan oleh para orang tua. Oleh karena itu, orang tua benar-benar memerhatikan asupan gizi pada makanan anak. Tetapi, menurut sebuah jajak pendapat terbaru, kebanyakan orang tua ragu-ragu tentang kapan dan bagaimana cara yang paling baik memperkenalkan makanan padat pada bayi.

Menurut survei yang dilakukan oleh sebuah perusahaan susu anak terhadap 200 orang tua dan calon orang tua, mendapati sekitar 53 persen responden menyangka bahwa kurang jelasnya informasi gizi anak yang mereka terima.

Sedangkan, seperti dikutip laman CNN Indonesia, sepertiga responden melaporkan mereka ragu kapan semestinya memberikan makanan padat untuk bayi mereka. Akademi Pediatrik Amerika menganjurkan para orang tua agar memperkenalkan makanan padat dengan berbagai tekstur pada bayi di usia enam bulan.

Pendapat ahli nutrisi di Ann and Robert H. Lurie Children's Hospital, Chicago, Wesley Lowman, mengatakan, mengajak orang tua untuk tetap berkomunikasi rutin dengan dokter anak. "Yang utama adalah jika bertemu dengan ahli kesehatan untuk memperoleh nasihat personal terhadap anak mereka, sebab tiap-tiap anak berlainan, dan ini merupakan waktu yang relevan," ucap Lowman.

"Kapan anak siap untuk mengonsumsi makanan padat akan sangat berbeda untuk setiap anak," lanjutnya.

"Perkembangan bayi sangat cepat, itu merupakan masa pertumbuhan paling cepat dari seluruh fase hidup manusia," ujar Mark R. Corkins, profesor pediatri pada Universitas Pusat Ilmu Kesehatan Tennessee.

Air Susu Ibu (ASI) mesti menjadi sumber nutrisi utama bayi di tahun permulaan kehidupan mereka, namun ASI rendah akan zat besi. "Zat besi sangat vital bagi sel-sel darah merah, jadi mulai lah dengan mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi."

Mengenai makanan padat, Corkins mengingatkan agar para ibu jangan tergesa-gesa.

"Jangan terburu-buru," ucapnya menambahkan. "Ini bukan kondisi mendesak. Sejumlah orang tua beranggapan mereka mesti memulai dengan secepatnya." 

Menurut Adam Rubinstein, direktur medis dari Advocate Health Care, pelayanan kesehatan online, juga mengingatkan orang tua atas kecemasan berlebihan mereka. "ASI memberikan cukup gizi pada anak. Apabila ASI tidak mencukupi, maka makanan pendamping dapat membantu asupan nutrisi," ujarnya.

Rubinstein merekomendasikan, supaya orang tua juga memperkenalkan berbagai buah dan sayuran kepada bayi mereka, dan bersikap tenang jika anak menolak makanan. Lebih baik memperbanyak variasi makanan daripada memaksa anak untuk makan. "Orang tua jangan marah tatkala anak mereka sulit makan makanan tertentu," pungkasnya.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
22:20

Saturday, 31 October 2015

Studi: Berkebun dapat Tingkatkan Kesehatan Mental

Ilustrasi berkebun (Foto Dok. Thinkstock)

DUNIA BERITA - Berdasarkan hasil penelitian dari dua Universitas di Inggris mengungkapkan bahwa dengan berkebun dapat menggembirakan hati dan meningkatkan harga diri, seperti dilaporkan laman BBC.

Pendapat ini diperoleh setelah para peneliti dari Universitas Westminster dan Universitas Essex melakukan studi terhadap 269 orang, sekitar setengahnya melakukan aktivitas berkebun secara rutin.

Dilaporkan bahwa mereka yang berkebun selama sedikitnya 30 menit dalam sepekan, menunjukkan memiliki kesehatan mental lebih baik.

Ditemukan pula bukti bahwa orang-orang yang rajin berkebun cenderung tidak mempunyai masalah dengan berat badan.

Secara keseluruhan,  responden yang berkebun atau melakukan aktivitas bercocok tanam setidaknya sekali dalam seminggu, melaporkan mempunyai tingkat kelelahan dan depresi yang rendah, memiliki harga diri yang tinggi, dan kebanyakan merasa lebih sehat ketimbang mereka yang tidak berkebun sama sekali.

Dr Carly Wood, peneliti dari Universitas Essex mengatakan "Berkebun dan bercocok tanam tampaknya punya peran yang signifikan dalam meningkatkan kesehatan mental orang-orang yang tinggal di perkotaan."

Kebun atau lahan kosong yang dapat difungsikan untuk menanam sayur semakin sulit dijumpai di kota-kota besar.

Para peneliti merekomendasikan agar tanah atau lahan kosong di perkotaan dapat digunakan untuk aktivitas berkebun dan bercocok tanam.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
22:17

Wednesday, 28 October 2015

Waspada! Stres Datang, Jodoh bisa Menjauh

Ilustrasi seseorang mengalami stres (Foto Dok. Thinkstock)

DUNIA BERITA - Stres dapat menjadikan wajah nampak kurang bugar, yang berujung membuat penampilan wajah anda kelihatan kurang menarik, hal itu dilaporkan menurut sebuah penelitian di Inggris.

Laki-laki dan perempuan secara signifikan lebih mempunyai daya tarik bagi pasangan potensial mereka apabila tingkat stres mereka lebih rendah ketimbang pesaingnya.

Menurut Fhionna Moore, seorang ahli ekologi perilaku di Inggris, mengatakan bahwa melakukan riset untuk mengetahui bagaimana ketegangan mental atau emosional bisa berdampak pada penampilan fisik. Ketika timbul ketegangan mental atau stres, tubuh akan mengeluarkan hormon kortisol.

Hormon ini akan menyebabkan meningkatnya jumlah glukosa di tubuh anda., kecuali itu juga dapat menghambat pertumbuhan tulang dan otot. Hal tersebut menjadikan seseorang terlihat kurang sehat sehingga mengakibatkan wajah nampak lebih jelek.

"Kortisol merupakan hormon yang dilepaskan saat seseorang sedang mengalami kondisi yang dapat menimbulkan stres, dan memungkinkan kita menanganinya dalam waktu singkat," jelas Moore, seperti dikutip dari laman CNN Indonesia

"Tetapi, jika hormon tersebut meningkat lebih lama, seumpama, sewaktu masa-masa sulit, itu bisa jadi sangat buruk bagi kesehatan kita," sambung Moore, yang juga seorang pengajar di Universitas Dundee sebagai dosen Psikologi.

Moore telah menjalankan sejumlah analisis perihal kondisi ini, dan saat ini dia banyak menyampaikan pidato bertajuk Facing up to Beauty - Is It Really Skin Deep?

Dalam salah satu penelitian dia menguji kadar kortisol dari sampel air liur peserta dan mengambil foto wajah mereka.

"Kami mendapati bahwa wajah laki-laki dan perempuan yang mempunyai air liur dengan tingkat kortisol yang tinggi, di nilai sebagai kurang menarik dan sehat, ketimbang peserta dengan kortisol lebih rendah," tuturnya.

Profesor Moore menyatakan bahwa laki-laki yang dapat mengatasi kondisi stres seketika terlihat lebih menarik bagi perempuan.

"Kami yakin, kaitan antara tingkat stres yang rendah pada laki-laki dan daya tarik di mata perempuan yakni sebab kemampuan menangani situasi stres membuktikan genetik yang kuat. Hal itu dianggap sebagai calon pasangan ideal dengan kemampuan memberikan gen yang baik bagi anak-anak mereka," ucapnya.

Hal yang sama juga berlaku pada perempuan. Mereka yang jauh dari stres dianggap lebih cantik dan menarik. Sedang, mereka yang memiliki kadar kortisol yang tinggi disebut bermuka masam, sehingga kurang menarik.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
21:14

Monday, 26 October 2015

Kebiasaan Menggigit Kuku Petanda Perfeksionis

Kebiasaan menggigit kuku cenderung berkaitan dengan kepribadian

DUNIA BERITA - Suka menggigit kuku, memilin rambut dan menggaruk alis, alih-alih bukan sekadar masalah kebiasaan. Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Negeri di Montreal, Kanada, mengatakan bahwa perilaku kompulsif semacam itu, cenderung berkaitan dengan kepribadian.

Penelitian tersebut menunjukkan mereka yang memiliki perilaku kompulsif cenderung tidak sabar, gampang bosan dan cepat frustasi. Untuk menghindari hal tersebut, mereka umumnya melakukan kebiasaan berulang, seperti menggigit kuku hingga menggoyang kaki.

Studi yang di terbitkan dalam Journal of Behavior Therapy Experimental Psychiatry tersebut, menekankan pada kepribadian perfeksionis, karakter yang sesungguhnya lebih membahayakan ketimbang yang diduga selama ini.

Menurut Dr Kieron O'Connor, Profesor psikiatri University of Montreal, yang sekaligus pemimpin tim peneliti menyebutkan "Kami mendapati mereka yang memiliki kepribadian perfeksionis biasanya menampakkan perilaku kompulsif. Maknanya, mereka tidak bisa duduk diam dan punya momen damai menenangkan jiwa."

O'Connor melanjutkan, perilaku kompulsif tersebut akan membawa dampak frustasi, rasa kecewa dan dapat berakibat menjadi depresi. Dalam riset tersebut, para peneliti mengamati 48 partisipan, yang mana 50 persen dari mereka memiliki perilaku kompulsif. Lainnya, tidak mempunyai kecenderungan perfeksionis, berperan sebagai kelompok kontrol.

Kedua kelompok selanjutnya diberikan pertanyaan perihal emosi yang sering mereka alami, termasuk rasa bosan, marah, bersalah, terganggu dan khawatir. Kemudian, kedua kelompok diposisikan pada kondisi yang mengakibatkan berbagai emosi, termasuk stres, frustasi, bosan serta rileks.

Alhasil, mereka yang mempunyai riwayat perilaku kompulsif, cenderung tidak bisa diam tatkala merasa stres atau frustasi. Mereka tampak berupaya melakukan sesuatu seperti menggigit kuku atau memainkan rambut. Sedangkan ketika rileks, kelompok kompulsif menunjukkan tidak ada kecenderungan untuk melakukan kebiasaan mereka.

O'Connor membuat kesimpulan bahwa perilaku kompulsif, apabila jarang terjadi, tergolong baik untuk kesehatan jiwa.

"Hal tersebut dapat membantu tubuh mendistribusikan energi, mengatur emosi dan menjadikan anda produktif," ujarnya, seperti di kutip dari laman CNN Indonesia.

Tetapi, jika kebisaan itu sulit dikontrol dan mengganggu aktivitas sehari-hari, hal itu tergolong pada kelainan perilaku dan memerlukan terapi.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
22:49

Friday, 23 October 2015

Cara Menangani Anak dengan Perilaku Bermasalah

Ilustrasi anak-anak sedang bermain (Foto Dok.Thinkstock)

DUNIA BERITA - Menurut sebuah laporan studi baru mengatakan bahwa anak-anak pada masa perkembangannya acap mengalami fase perilaku amarah atau membangkang. Tatkala sifat tersebut menjadi sulit dikendalikan maka peran orang tua sangat dibutuhkan, Anak-anak dengan gangguan perilaku mengganggu dapat diberikan tindakan terapi terbaik saat orang tua mereka turut andil dalam terapi.

Gangguan tersebut termasuk perilaku amarah, agresi interpersonal dan pembangkangan, dapat membawa pengaruh pada sekitar 3,5 persen anak-anak dan remaja, ungkap para peneliti yang hasil penelitiannya diterbitkan dalam jurnal Pediatrics, seperti dilansir Reuters.

Meskipun beberapa kali terapi lebih baik ketimbang tidak sama sekali, para peneliti mendapati, anak-anak tidak merespons dengan baik terapi yang hanya diberikan untuk mereka. Pengaruh yang positif justru timbul tatkala pendekatan difokuskan kepada orang tua mereka.

Menurut Richard Epstein, peneliti di Chapin Hall Center for Children di Universitas Chicago, Amerika Serikat, mengatakan "Akal sehat dan sejumlah laporan studi  mengungkapkan bahwa peran serta orang tua sangat penting untuk intervensi psikososial anak-anak. Ini tidak hanya untuk orang tua yang bertujuan mengurangi masalah perilaku anak yang mengganggu."

Mengutip CNN Indonesia, penelitian itu mendapati, orang tua mempunyai pengaruh terbesar untuk hasil terapi anak-anak prasekolah dan anak-anak sekolah dasar, tidak bagi remaja. 

Para peneliti menarik kesimpulan bahwa peran serta orang tua, baik secara sendiri maupun dalam kombinasi dengan komponen terapi, lebih dapat mendukung anak meningkatkan perilaku mereka.

"Perilaku anak yang mengganggu tidak timbul dalam ruang hampa. Interaksi antara orang tua dengan anak adalah konteks utama untuk menunjang perkembangan anak," ujar Jonathan Corner, peneliti di Pusat Anak dan Keluarga di  Universitas Internasional Florida, Miami, Amerika Serikat.

Corner menambahkan bahwa ketika ingin memulihkan perilaku anak yang membangkang, agresi dan perilaku terkait lainnya, anda tidak akan tercapai tanpa adanya intervensi orang dewasa saat merespons perilaku anak yang mengganggu."

Orang tua merupakan kunci sukses terapi pada masalah perilaku anak sebab anak diperlakukan secara pribadi. Tatkala orang tua di peran sertakan, terapi bisa membantu terapis mendalami strategi perilaku untuk mendukung berubahnya perilaku anak, ucap Ricardo Eiraldi, peneliti dari departemen psikologi anak di Universitas Pennsylvania Perelman School of Medicine di Philadelphia.

"Salah-satu pendekatan yang baik diantaranya adalah memberikan apresiasi untuk perilaku baik, mengabaikan kenakalan kecil, memberikan perintah yang efektif, memberikan penghargaan untuk perilaku anak yang sesuai harapan," pungkasnya.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
22:20

Thursday, 22 October 2015

Studi: Manusia Modern Cenderung Lebih Gemuk

Ilustrasi (Foto Dok. Shutterstock)

DUNIA BERITA - Sempat mengalami susah untuk menurunkan berat badan menjadi lebih ideal padahal sudah menjalani diet dan olahraga? Tenang, kebanyakan orang lain juga pernah merasa demikian, jadi anda tidak sendirian.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas New York yang dipublikasikan dalam jurnal Obesity Research & Clinical Practice, alih-alih masyarakat modern sekarang ini lebih sulit menurunkan berat badan dibanding 18 tahun yang lalu.

Temuan tersebut mengungkapkan tahun 2006, orang dewasa modern mempunyai Indeks Massa Tubuh (BMI) yang lebih tinggi ketimbang pada tahun 1988, malah dengan tingkat diet dan aktivitas yang sama.

Studi ini menilai diet yang sama pada tahun 1971 dan 2008. Alhasil, pada masa sekarang, kebanyakan pelaku diet sepuluh persen lebih berat daripada orang di masa lalu. Walau berhubungan dengan aktivitas yang sama, orang yang hidup pada tahun 2006 memiliki kecenderungan lebuh berat lima persen ketimbang orang pada masa 1988.

Jennifer Kuk, profesor the School of Kinesiology and Health Science di New York University, yang juga andil dalam studi itu, mengatakan "Hasil studi kami menganjurkan, jika anda berusia 25 tahun, anda mesti makan lebih sedikit dan melakukan olah raga lebih banyak, untuk menghindari kenaikan berat badan."

Dalam sesi tanya jawab dengan The Atlantic, yang dilaporkan CNN Indonesia, Kuk menyampaikan sejumlah teori yang menerangkan alasan sulitnya menurunkan berat badan.

Pertama, pada era kini, masyarakat lebih sering terpapar bahan kimia yang berdampak kenaikan berat badan. Kedua, pemakaian obat resep telah menunjukkan kenaikan, yang mempunyai efek samping terhadap peningkatan berat tubuh. Lalu teori yang terakhir yang Kuk kemukakan adalah bakteri yang terdapat dalam usus orang modern, diduga telah berubah seiiring waktu yang membuat orang lebih rentan mengalami pertambahan bobot tubuh.

Namun, studi ini tidak menemukan alasan terjadinya tren yang terjadi di kota-kota besar saat ini. Studi ini melibatkan 36.377 orang dewasa Amerika Serikat dari hasil National Health and Nutrition Survey kurun waktu antara tahun 1971 hingga 2008 dan laporan frekuensi aktivitas fisik pada 14.419 orang periode 1988 hingga 2006.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
21:46

Wednesday, 21 October 2015

Buat Anak, Kekerasan Fisik dan Emosional Sama Bahayanya

Ilustrasi anak depresi (Foto Dok. Thinkstock/Brian A. Jackson)

DUNIA BERITA - Berdasarkan sebuah studi baru menunjukkan bahwa jika terkait kesehatan psikologis dan perilaku, baik kekerasan fisik ataupun emosional bisa sama-sama merusak bagi anak.

Para dokter acap kali yakin bahwa kekerasan fisik atau seksual lebih berbahaya dibanding tekanan emosional atau pengabaian. Tetapi, kajian ini menyebutkan bahwa ternyata anak-anak menghadapi masalah yang sama, terlepas dari jenis tekanan yang dihadapi, tulis para peneliti mewartakan dalam jurnal JAMA Psychiatry, seperti dikutip CNN Indonesia.

Menurut David Vachon, penulis utama penelitian dari Universitas McGill di Montreal, Kanada, mengatakan "Anak-anak yang menghadapi kekerasan mengalami semua jenis masalah dari ketakutan dan depresi hingga melanggar peraturan dan agresi."

Dia menambahkan, timnya terperanjat mendapati bahwa berbagai jenis penyalahgunaan mempunyai dampak yang sama. "Kekerasan fisik dan emosional pada anak mempunyai masalah yang sangat serupa," katanya.

Untuk menilai dampak berbagai kekerasan anak untuk kesehatan mental, Vachon dan timnya meneliti sekitar 2.300 anak yang menghadiri perkemahan musim panas untuk anak-anak dari orang tua berpenghasilan rendah kurun waktu antara tahun 1986 hingga 2012.

Kurang lebih 1.200 anak mengalami penganiayaan. Anak-anak dipisahkan menurut usai mereka. Sekitar setengah dari jumlah anak dari masing-masing kelompok mempunyai sejarah penganiayaan. Anak-anak tidak tahu, siapa dari sesama teman mereka yang telah menghadapi kekerasan. 

Konsultan mengevaluasi perilaku masing-masing anak selama perkemahan. Setiap anak juga merampungkan tugas penilaian diri.

Hasilnya, anak-anak dengan riwayat  kekerasan dan pengabaian mempunyai tingkat depresi, menarik diri, kekhawatiran, neurotisisme yang lebih tinggi dibandingkan peserta yang tidak mengalami kekerasan.

Perbedaan paling dialami oleh anak-anak yang menjadi korban semua jenis kekerasan, meliputi penelantaran, penganiayaan fisik, seksual atau emosional. Hasilnya sama pada anak laki-laki dan perempuan juga untuk seluruh kelompok ras.

Meski begitu, dampak kekerasan fisik dan emosional, baik yang timbul di keluarga atau lingkungan teman, terhadap psikologis dan perilaku anak mungkin serupa, tutur William Copeland, peneliti psikiatri di Universitas Duke di Durham, Carolina Utara, Amerika Serikat.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
22:34

Monday, 19 October 2015

Terkuak Pola Tidur Leluhur Manusia

Ilustrasi bangun tidur (Foto Dok. Getty Images/Thinkstock/Brian Jackson)

DUNIA BERITA - Tidur merupakan kebutuhan manusia sehari-hari. Dengan tidur maka tubuh akan kembali menjadi bugar setelah melakukan aktivitas seharian. Tidur minimal delapan jam sehari seakan sudah menjadi "petuah" kesehatan sebab durasi ini di yakini menjadi acuan untuk beristirahat di malam hari.

Kemudian, teknologi dianggap sebagai biang keladi pengacau "petuah" itu. Sinar yang dibiaskan oleh televisi, ponsel, tablet, laptop dipercaya pemicu susah tidur.

Hasilnya, mengutip dari CNN Indonesia, badan akan terasa lebih letih dan sulit konsentrasi. Tetapi, betulkah bila berhenti memakai dari seluruh perangkat tersebut menjadikan tidur lebih lelap dan jasmani lebih sehat, terlebih panjang umur seperti nenek moyang kita?

Alih-alih, leluhur manusia yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal teknologi pun durasi tidurnya tidak delapan jam penuh.

Hal ini dilaporkan dalam sebuah riset yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas California di Los Angeles. Peneliti mengobservasi suku di Tanzania, Namibia dan Bolivia untuk mengungkapkan bagaimana pola tidur yang diterapkan oleh manusia jaman dahulu.

Sebelumnya, ada anggapan mereka tidur langsung setelah matahari terbenam. Mereka tidak mempunyai cahaya yang menjadi argumen untuk bertahan mengobrol atau teknologi untuk menonton.

Tetapi peneliti mendapati mereka ternyata tetap terjaga sampai rata-rata tiga jam dan 20 menit setelah matahari terbenam. Yang menjadikan menarik adalah hal itu tidak menjadi dampak negatif bagi kesehatan, kendati durasi tidur menjadi kurang.

Menurut Gandhi Yetish, calon Doktor di Universitas Meksiko yang melewatkan 10 bulan bersama Suku Tsimane di Bolivia, mengatakan "Ada anggapan kita semua mesti tidur delapan sampai sembilan jam per malam, dan bila peranti modern diambil, kita dapat tidur lebih lama. Untuk pertama kalinya kami menyebutkan bahwa hal itu tidak benar."

Ketua tim riset, Jerome Siegel, menyatakan "Alih-alih menunjukkan budaya modern telah mengusik pola tidur alami, dalam kasus ini budaya modern dengan lampu elektrik dan pengatur suhu malah mengembalikan pola tidur alami."
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
21:07

Friday, 16 October 2015

Studi: Cara Tepat Berhenti Merokok

Ilustrasi orang tua dan anak (Foto Dok. Shutterstock)

DUNIA BERITA - Apabila anda seseorang yang sedang berusaha untuk berhenti merokok, ada baiknya berdialog dengan anak anda perihal bahaya merokok.

Berdasarkan sebuah studi baru di Amerika Serikat menyebutkan bahwa orang tua yang berhenti merokok akan kecil peluangnya untuk kambuh bila mereka membicarakan bahaya merokok dengan anak mereka.

Dalam satu tahun, para peneliti mengamati 700 orang mantan perokok yang mempunyai anak. Semua peserta tersebut lantas di bagi menjadi dua kelompok, mereka yang menjadi kelompok pertama adalah memperoleh materi pendidikan perihal risiko tembakau dan informasi kegiatan-kegiatan untuk membahas hal tersebut dengan anak mereka. Sementara kelompok kedua sebagai kelompok kontrol yang tidak mendapatkan materi pendidikan.

Satu tahun kemudian, orang tua yang diberi materi pendidikan, dua kali cenderung untuk tetap setop merokok. daripada mereka yang masuk kelompok kontrol.  

Ketua tim studi, Christine Jackson menuturkan bahwa berbincang dengan anak-anak dapat menguatkan keputusan para orang tua sebagai bukan perokok. 

Jackson melaporkan, perbincangan tersebut dapat melahirkan perasaan disonansi kognitif, yakni pikiran tidak konsisten terkait keputusan perilaku dan perubahan sikap, yang menjadikan para peserta sulit membuat pembelaan perihal merokok sedangkan dirinya sendiri adalah perokok.

"Studi ini penting sebab mengungkapkan pendekatan baru untuk membantu para orang dewasa, terutama mereka yang mempunyai anak-anak usia sekolah, supaya efektif berhenti merokok," ujar Jackson, mengutip Reuters.

Menurut seorang ilmuwan perilaku dari Universitas Washington dan Fred Hutchinson Center di Seattle, Jonathan Bricker mengatakan bahwa orang tua dapat memperkuat apa yang mereka pahami perihal faedah berhenti merokok dengan mengajarkan pengetahuan tersebut kepada anak-anak mereka.

"Manusia cenderung ingin berbuat konsekuen dengan apa yang mereka ajarkan kepada orang lain," ucap Bricker, seperti dilansir laman CNN Indoneisa. Dia menambahkan bahwa dengan mengajarkan kepada anak, seseorang akan merasa dirinya lebih bertanggung jawab. "Apabila anda mengajarkannya, anda cenderung untuk melaksanakannya sendiri."
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
22:27

Thursday, 15 October 2015

Bayi Lahir di Musim Dingin Cenderung Lebih Pendek, Betulkah?

Ilustrasi bayi (Foto Dok. Thinkstock) 

DUNIA BERITA - Bayi yang lahir pada musim panas cenderung terlahir dengan berat yang lebih besar, tubuh lebih tinggi dan kesehatan secara keseluruhan yang lebih baik ketika dewasa, menurut hasil studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Cambridge, Inggris, seperti dilansir dari laman Independent.

Para peneliti di Unit Epidemiologi Dewan Penelitian Medis (MRC) mengatakan bahwa ibu hamil yang lebih banyak memperoleh sinar matahari adalah alasan perbedaan tersebut. Tetapi, mereka menyebutkan bahwa penelitian lebih lanjut perlu dilakukan.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Heliyon ini melibatkan lebih dari setengah juta orang. Penelitian tersebut memelajari pertumbuhan dan perkembangan laki-laki dan perempuan di Inggris.

Menurut penulis utama penelitian yang juga seorang ilmuwan senior, John Perry, menuturkan "Saat anda dikandung dan dilahirkan secara acak, hal tersebut tidak diakibatkan oleh strata sosial, usia orang tua anda, ataupun kesehatan mereka. Jadi, memilih metode kelahiran menurut bulan adalah konsep kajian yang kuat untuk mengenali pengaruh lingkungan sebelum lahir."

Penelitian sebelumnya menunjukkan pengaruh musim terhadap berat badan dan kesehatan bayi. Hal tersebut menjadikan Perry dan timnya meneliti kecenderungan tersebut lebih dalam, pada waktu pubertas, yang merupakan kaitan penting antara kehidupan awal dan kesehatan ketika dewasa kelak.

Hasil studi mereka mengungkapkan bahwa bayi yang lahir pada bulan Juni, Juli dan Agustus memiliki kecenderungan lebih besar saat lahir dan lebih tinggi saat dewasa.

Studi sebelumnya menunjukkan anak-anak perempuan yang lahir di musim panas mengalami pubertas belakangan, ini merupakan sinyal kesehatan yang lebih baik ketika dewasa.

"Ini merupakan pertama kalinya waktu pubertas secara kuat dihubungkan dengan musim atau bulan kelahiran," ujar Perry.

"Kami takjub dan senang mengetahui seberapa mirip pola tersebut untuk berat badan dan waktu pubertas." Perry menyebutkan, hasil studi mereka menemukan bahwa bulan kelahiran memiliki dampak terukur pada perkembangan dan kesehatan seseorang.

"Tetapi masih banyak tugas untuk menafsirkan mekanisme di efek tersebut," imbuhnya.

Bayi yang lahir di musim terdingin, yakni Desember, Januari dan Februari cenderung lebih ringan saat lahir, dan lebih pendek ketika dewasa, serta menghadapi pubertas lebih awal. Para peneliti menyimpulkan bahwa kondisi dalam rahim mengakibatkan perbedaan dalam kehidupan awal, juga sebelum kelahiran dan masa perkembangan dari anak-anak menuju dewasa.

Pemicunya adalah efek paparan vitamin Dyang lebih tinggi pada trimester kedua masa kehamilan. "Paparan vitamin D sangat dibutuhkan dan temuan kami semoga memotivasi studi lain untuk pengaruh jangka panjang vitamin D di awal kehidupan terhadap waktu pubertas dan kehidupan," pungkas Perry, seperti di kutip dari laman CNN Indonesia.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
23:13

Monday, 12 October 2015

Sering Konflik dengan Seseorang Tingkatkan Risiko Kematian

Ilustrasi konflik dengan pasangan (Foto Dok. Thinkstock)

DUNIA BERITA - Banyak penelitian mengungkapkan bahwa konflik, tuntutan dan kekhawatiran dalam hubungan keluarga, pertemanan dan tetangga dapat meningkatkan risiko kematian. Studi ini diperkukuh dengan adanya sebuah penelitian baru di Denmark.

"Konflik, dapat meningkatkan risiko kematian ini terlepas dari siapa yang menjadi sumber konflik. Ini juga bermakna semua orang yang berkonflik dengan anda dapat meningkatkan risiko kematian," ujar para penulis penelitian seperti dikutip dari laman NY Daily News.

"Sementara kecemasan dan tuntutan hanya dihubungkan dengan risiko kematian jika hal ini berkaitan dengan pasangan atau anak-anak."

Berdasarkan studi, laki-laki dan orang yang tak punya pekerjaan adalah orang yang paling peka mengalami masalah ini. Rikke Lund, salah-satu peneliti dalam studi ini yang juga peneliti kesehatan masyarakat di Universitas Kopenhagen, mengatakan bahwa efek kesehatan seseorang dan jaringan sosial mereka terhadap keluarga dan teman sangat berpengaruh dalam hal ini.

Untuk menilai pengaruh stres sebab kaitan sosial dan membawa dampak kematian, para peneliti memeriksa informasi dari sebuah penelitian jangka panjang di Denmark. Responden yang diteliti adalah 9.870 orang dewasa berusia antara 30 hingga 50 tahun saat penelitian dimulai. Mereka semua ditelusuri kesehatannya dari tahun 2000 hingga akhir 2011.

Para peneliti menguji kaitan sosial yang menjadikan stres dengan mencocokkan jawaban atas pertanyaan tentang siapa (pasangan, anak, saudara, teman tetangga) yang mengakibatkan kecemasan dan konflik dalam kehidupan mereka.

Dalam masa studi, empat persen perempuan dan enam persen pria meninggal dunia. Hampir separuh kematian diakibatkan oleh kanker. pemicu lainnya adalah karena penyakit kardiovaskular, penyakit hati, kecelakaan dan bunuh diri.

Studi ini menyebutkan bahwa sekitar satu dari 10 partisan melaporkan bahwa pasangan dan anak-anak selalu kerap menjadi orang yang acap menuntut dan pemicu kecemasan. Enam persen lainnya membeberkan bahwa mereka sering mengalami konflik dengan anggota keluarga lainnya, sementara dua persen lainnya menunjukkan kerap mengalami konflik dengan teman-teman.

Peneliti juga mengungkapkan bahwa enam persen responden selalu berseteru dengan pasangan atau anak. Sementara dua persen lainnya dengan kerabat dan satu persen dengan teman dan tetangga.

Orang yang acap atau kerap mengalami kecemasan atau tuntutan karena pasangan mempunyai risiko dua kali lipat lebih besar ketimbang dengan mereka yang jarang berselisih.

Sementara peserta yang acap atau kerap menghadapi kecemasan atau tuntutan lantaran anak berisiko 50 persen mengalami kematian.

Peserta yang selalu menghadapi perselisihan dengan pasangan atau teman memiliki risiko dua kali lipat mengalami kematian. Sementara jika kerap berkonfilk dengan tetangga mempunyai risiko tiga kali lipat untuk meninggal.

Akan tetapi, menurut Holt-Lunstad, peneliti psikolog di Universitas Brigham Young di Provo, Utah, yang tidak ikut serta dalam studi mengatakan bahwa penelitian ini tidak berarti bahwa akan lebih aman untuk anda jika tidak mempunyai hubungan sosial dengan orang lain.

"Kita sadar bahwa isolasi sosial itu juga tidak baik bagi kita," tuturnya, seperti dilansir CNN Indonesia.

"Konflik dengan orang lain memang tidak baik, tetapi itulah mengapa penting juga bagi kita untuk menumbuhkan aspek positif dari hubungan sosial ini daripada hanya berpikiran pada hal-hal yang menjadikan anda geram karena orang lain."
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
23:06

Sunday, 11 October 2015

Peranti Elektronik di Kamar Buat Anak Jadi Kurang Tidur

Ilustrasi anak tidur (Foto Dok. Shutterstock)

DUNIA BERITA - Dewasa ini kebanyakan orang sering melengkapi kamar dengan berbagai peralatan elektronik, tak terkecuali kamar tidur anak anda. Namun, hal ini sebaiknya anda pertimbangkan kembali.

Menurut sebuah kajian dari National Sleep Foundation di Amerika Serikat, menunjukkan 72 persen dari anak-anak rentang usia 6 hingga 17 tahun yang kamarnya dilengkapi perangkat elektronik kehilangan waktu tidur sampai satu jam ketimbang mereka yang kamarnya tanpa dilengkapi dengan peranti serupa.

Seperti dilansir Huffington Post, dampaknya anak-anak berusia 6 - 10 tahun hanya punya waktu tidur 8 - 9 jam dalam semalam. Sedangkan waktu tidur yang disarankan adalah 10 - 11 jam untuk usia tersebut.

"Kurang tidur pada anak menurut studi dapat berakibat pada masalah obesitas, masalah di sekolah, dan perubahan perilaku," ujar Ann Halbower, direktur rumah sakit penelitian masalah tidur pada anak.

Menurut Gary Montgomery, direktur media di Children's Sleep Center, Children's Healthcare, Atlanta, mengatakan "Kurang tidur pada anak-anak juga dapat membawa dampak bagian otak yang mengendalikan kemampuan kognitif."

Imbasnya anak-anak yang kekurangan tidur ini acap kali kesulitan untuk tetap terjaga dan konsentrasi, terutama di dalam kelas.

Sedang studi yang dilakukan Pusat Kendali dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengungkapkan bahwa anak-anak usia SMA yang kurang tidur kurang dari delapan jam menjurus lebih mudah kecanduan alkohol, merokok, mengalami kecelakaan dan berniat tentang bunuh diri.

"TV kabel, ponsel, tablet, semua itu dapat memancarkan cahaya biru yang dapat menekan melatonin. Melatonin merupakan neurotransmitter yang mengatur siklus tidur dan terjaga kita," tutur Halbower.

Melatonin produksinya dapat dibuat dalam kegelapan. Manusia akan merasa gampang mengantuk ketika suasana gelap sebab produksi melatonin ini, dengan seperti itu pula mereka akan dapat tidur lebih lelap.

Seperti dikutip CNN Indonesia, hormon ini juga dapat mendukung manusia dalam mengatur selera makan dan metabolismenya.

Ketika anak-anak terjaga dalam keadaan masih mengantuk tak pelak mereka akan langsung menghendaki makanan yang tinggi karbohidrat dan tinggi lemak. "Seakan-akan mereka lapar," ucap Halbower.

Jadi bagaimana orang tua bisa mengetahui jika anak-anak mereka kekurangan tidur? "Kebanyakan anak-anak jadi gampang marah, rewel, tidak konsentrasi dam sulit memusatkan perhatian," ujar Mary Carskadon, director Sleep and Chronobiology di E.P. Bradley Hospital.

Persoalannya kemudian gejala kurang tidur itu sangat serupa dengan kelainan kurangnya perhatian dan hiperaktivitas atau ADHD. Namun, amati apakah anak juga menghadapi masalah pola makan dan berat badan. Inilah indikasi tambahan anak yang kurang tidur.

Untuk menanganinya Halbower menganjurkan untuk meluangkan waktu 30 - 60 menit untuk bersiap sebelum tidur. Mandi air hangat, dan aktivitas fisik sudah harus rampung sebelum jam persiapan tidur ini.

Hadirkan suasana kamar yang sejuk, gelap dan nyaman supaya anak lebih cepat terlelap. Pastikan pula anak punya waktu yang teratur tiap harinya untuk berangkat tidur. 
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
22:28

Friday, 9 October 2015

Janin Bisa Menyanyi Dalam Rahim di Usia 16 Minggu

Ilustrasi ibu hamil (Foto Dok. Shutterstock)

DUNIA BERITA - Janin ternyata dapat mendengar di dalam kandungan pada usia hanya 16 minggu masa kehamilan, menurut hasil temuan sebuah penelitian terbaru, seperti dikutip laman CNN Indonesia.

Para ilmuwan dari Institute Marques di Barcelona, untuk pertama kalinya menyebutkan bahwa bayi yang belum lahir dapat mendeteksi suara. Mereka merespons dengan cara menggerakkan mulut dan lidah.

Telinga janin tersebut dapat dipastikan berkembang sepenuhnya pada usia 16 minggu masa kehamilan. Akan tetapi, para ahli masih mempercayai bahwa janin dapat mendengar pada minggu ke 18 masa kehamilan, yang paling cepat, dan biasanya mendekati minggu ke-26.

Dr Maria Lopez Teijon, pemimpin penelitian, mengungkapkan temuannya menampakkan janin merespons musik yang ditransmisikan ke dalam vagina dengan menggerakkan mulut dan lidahnya. Seakan-akan mereka mencoba untuk berbicara atau menyanyi.

Selain menyatakan untuk pertama kalinya bahwa janin sudah dapat mendengar pada usia 16 minggu, studi ini juga memiliki implikasi yang lebih luas.

Peneliti menyebutkan bahwa metode mereka bisa digunakan untuk mencegah ketulian pada janin dan juga untuk memastikan kesejahteraan janin.

Musik menstimulasi bagian otak yang berperan dalam komunikasi. Tatkala janin mendengarkan suara musik, janin merespons dengan gerakan yang serupa dengan vokalisasi  Ini menjadi tahapan awal sebelum akhirnya dia dapat bernyanyi dan berbicara.

Memanfaatkan perangkat yang disebut sebagai Babypod, yang dikembangkan untuk studi ini, ibu dapat menstimulasi keterampilan komunikasi janin, sebelum bayi tersebut dilahirkan.

Pada pokoknya, penelitian ini memperlihatkan bahwa bayi mulai belajar sebelum mereka dilahirkan.

Penelitian ini dilakukan pada perempuan dengan usia kehamilan 14 minggu dan 39 minggu. Selama studi, peneliti memanfaatkan ultrasonografi (USG) untuk memonitor reaksi janin setelah mendengarkan musik.

Musik tersebut dipancarkan baik ke abdomen ataupun ke dalam vagina melalui pengeras suara khusus yang dimasukkan ke dalam vagina. Semua janin di perdengarkan musik Partita A. Minor dari Johan Sebastian Bach.

Hasil pemindaian saat musik mulai di mainkan memperlihatkan bahwa sekitar 45 persen janin melakukan gerakan spontan kepala dan anggota tubuh lain.

Sedangkan, 30 persen menggerakkan mulut dan lidah mereka, dan 10 persen menjulurkan lidah mereka. Para peneliti mengatakan, respons janin dimulai pada minggu ke 16 usia kehamilan.


0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
21:41
Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)
Find Us :

Cari Berita Ini

Translate

Berita Populer

  • Sanksi Denda Akan Diterapkan PLN Bagi Pelanggan Nakal Pencuri Subsidi Listrik
    Ilustrasi Pengecekan Meteran Listrik PLN (Foto Tempo.co) DUNIA BERITA - PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) segera mempersiapkan s...
  • Indonesia Punya Ahli Nuklir yang diakui Dunia
    Logo ITB (Dok. itb.ac.id) DUNIA BERITA - Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidika...
  • Teknik Berburu Gurita Seperti Cara Harimau
    Gurita jenis Larger Pacific Striped Octopus (Dok. Commons.wikimedia.org) DUNIA BERITA - Seorang ahli biologi kelautan dari Universitas...
  • Melihat Menu Kejutan di Resepsi Pernikahan Gibran dan Selvi
    Martabak 16 rasa (Liputan6.com) DUNIA BERITA - Dalam acara resepsi pernikahan Gibran dan Selvi, hari ini Kamis (11/6/2015) di Gedung...
  • Studi: Bersyukur Berdampak Positif Bagi Kesehatan
    Ilustrasi berdoa (Foto Dok. Thinkstock) DUNIA BERITA - Dengan bersyukur banyak orang menyebutkan akan membawa dampak yang luar biasa b...
  • Teknologi Lift ke Luar Angkasa setinggi 20 Km Dipatenkan
    Desain Lift ke luar angkasa setinggi 20 Kilometer (Dok. Thothx.com) DUNIA BERITA - Thoth Technology Inc, perusahaan teknologi asal Kana...
  • 8 Kiat Mudah Buat Ingatan Tetap Tajam
    Tertawa merupakan salah satu cara agar ingatan kita tetap cemerlang (Foto Dok. Shutterstock) DUNIA BERITA - Tidak dapat dipungkiri, bi...
  • Seminggu Sebelum Dibunuh, Angeline Sempat Lolos dari Upaya Perkosaan
    Foto arsip (news.detik.com) DUNIA BERITA - Rupanya upaya berbuat bejat Agustinus yang akan di lampiaskan kepada Angeline (8 tahun) te...
  • Menengok apa isi seserahan Gibran untuk Selvi
    Gibran diapit oleh Jokowi dan Iriana (Solopos.com) DUNIA BERITA - Menurut rencana, tadi malam (10/6/2015) akan di lakukan seserahan d...
  • Gaya Bicara Menyindir Pertanda Orang Kreatif
    Ilustrasi perilaku sarkasme (Foto Dok. Thinkstock) DUNIA BERITA - Berdasarkan sebuah penelitian di Universitas Havard menunjukkan sarka...
  • About Us
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Copyright 2015 DUNIA BERITA - All Rights Reserved
Design by Mas Sugeng - Published by Evo Templates